Minggu, 28 April 2013

Uji Kandungan Boraks dan Formalin Pada Jajanan Bakso dan Siomay

Diposkan oleh Sitti Assambo di 21.29


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka semakin banyak jenis bahan makanan yang diproduksi, dijual, dan dikonsumsi dalam bentuk yang lebih awet dan lebih praktis dibandingkan dengan bentuk segarnya. Berkembangnya produk pangan awet tersebut hanya mungkin terjadi karena semakin tingginya kebutuhan masyarakat perkotaan terhadap berbagai jenis makanan yang praktis dan awet.

Produksi dan suplai produk jadi yang awet biasanya dilakukan secara sentral dalam pabrik pengolahan dan pengawetan makanan. Dengan demikian waktu yang diperlukan untuk menyiapkan sajian sampai siap untuk dapat disantap dapat dipersingkat, dengan hasil makanan yang sama lezatnya seperti bila diolah sendiri dari bahan segar. Di kalangan konsumen pangan masih sering terjadi kontroversi mengenai penggunaan bahan tambahan makanan di industri pangan, khususnya mengenai resiko kesehatan, terutama yang berasal dari bahan sintetik kimiawi. Sebab masalah keamanan pangan bukan hanya merupakan isu dunia, tetapi juga telah menjadi masalah setiap orang.

Kebanyakan makanan yang dikemas mengandung bahan tambahan, yaitu suatu bahan yang dapat mengawetkan makanan atau merubahnya dengan berbagai teknik dan cara. Bahan Tambahan Makanan didefinisikan sebagai bahan yang tidak lazim dikonsumsi sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komposisi khas makanan, dapat bernilai gizi atau tidak bernilai gizi, ditambahkan ke dalam makanan dengan sengaja untuk membantu teknik pengolahan makanan (termasuk organoleptik) baik dalam proses pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan produk makanan olahan, agar menghasilkan atau diharapkan menghasilkan suatu makanan yang lebih baik atau secara nyata mempengaruhi sifat khas makanan tersebut. Jadi kontaminan atau bahan-bahan lain yang ditambahkan ke dalam makanan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu gizi bukan merupakan bahan makanan tambahan.

B.     Tujuan dan Manfaat
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan zat pengawet yang berupa boraks dan formalin pada makanan sampel yang diuji atau diperiksa yaitu bakso dan somai.

Manfaat praktikum ini adalah untuk memberikan informasi tentang ada tidaknya residu bahan pengawet yang berbahaya pada bakso dan siomay di Kota Kendari.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.      Formalin
Formalin adalah larutan formaldehid dalam air dengan kadar 37% yang biasa di gunakan untuk mengawetkan sampel biologi atau mengawetkan mayat. Formalin merupakan bahan kimia yang disalahgunakan pada pengawetan tahu, mie basah, dan bakso (Djoko, 2006).
Formaldehid (HCOH) merupakan suatu bahan kimia dengan berat molekul 30,03 yang pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berbentuk gas tidak berwarna, berbau pedas (menusuk) dan sangat reaktif (mudah terbakar). Bahan ini larut dalam air dan sangat mudah larut dalam etanol dan eter (Moffat, 1986).

Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai jenis keperluan industri, yakni pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas. Formalin juga sering digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk urea, bahan pembuat produk parfum, pengawet bahan kosmetika, pengeras kuku. Formalin boleh juga dipakai sebagai bahan pencegah korosi untuk sumur minyak. Di bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis (polywood). Dalam kosentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet (Yuliarti, 2007).
Produsen sering kali tidak tahu kalau penggunaan formalin sebagai bahan pengawet makanan tidaklah tepat karena bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan bagi konsumen yang memakannya.  Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing menunjukkan bahwa pemberian formalin dalam dosis tertentu pada jangka panjang bisa mengakibatkan kanker saluran cerna. Penelitian lainnya menyebutkan peningkatan risiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan (Yuliarti, 2007).

2.      Boraks
Boraks merupakan garam natrium Na2B4O7.10H2O serta asam borat yang tidak merupakan kategori bahan tambahan pangan food grade, biasanya digunakan dalam industri nonpangan seperti industri kertas, gelas, keramik, kayu, dan produk antiseptik toilet (Didinkaem, 2007).
Boraks merupanakan racun bagi semua sel. Pengaruh terhadap organ tubuh tergantung konsentrasi yang dicapai dalam organ tubuh. Karena kadar tertinggi tercapai pada waktu diekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkan dengan organ lainnya. Dosis fatal boraks antara 0,1 – 0,5 g/kg berat badan (Cahyo, 2006).
Boraks ditambahkan ke dalam makanan untuk memperbaiki tekstur makanan sehingga menghasilkan rupa yang bagus. Bakso mengandung boraks memiliki kekenyalan khas yang berbeda dari kekenyalan bakso yang menggunakan banyak daging. Bakso yang mengandung boraks sangat renyah dan disukai dan tahan lama (Anonim, 2009).
Boraks termasuk kelompok mineral borat yang merupakan senyawa kimia alami yang tersusun dari atom boron (B) yang merupakan logam berat dan oksigen (O). Boraks sudah lama digunakan oleh masyarakat dan industri kecil dari pangan seperti gendar, kerupuk, mie dan bakso. Boraks secara lokal dikenal sebagai air bleng, atau cetitet, garam bleng atau pijer. Boraks sebetulnya sudah dilarang penggunaannya oleh pemerintah sejak juli 1978 dan diperkuat lagi dengan SK Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/Per/IX/1988 (Winarno, 1997). 

Asam borat merupakan asam lemah dengan garam alkalinya  bersifat basa, mempunyai bobot molekul 61,83 berbentuk serbuk halus kristal transparan atau granul putih tak berwarna dan tak berbau serta agak manis. Baik boraks ataupun asam borat memiliki khasiat antiseptika (zat yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme). Pemakaiannya dalam obat biasanya dalam salep, bedak, larutan kompres, obat oles mulut, bahkan juga untuk pencuci mata. Boraks juga digunakan sebagai bahan solder, bahan pembersih, pengawet kayu dan antiseptik kayu (Khamid, 2006).

Meskipun bukan pengawet makanan, boraks sering pula digunakan sebagai pengawet makanan. Boraks sering disalahgunakan untuk mengawetkan berbagai makanan seperti bakso, mie basah, pisang molen, siomay, lontong, ketupat dan pangsit. Selain bertujuan untuk mengawetkan, boraks juga dapat membuat tekstur makanan menjadi lebih kenyal dan memperbaiki penampilan makanan (Vepriati, 2007).

3.      Bakso
Bakso atau baso adalah jenis bola daging yang paling lazim dalam masakan Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka, akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening, dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri. Bakso sangat populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia; dari gerobak pedagang kaki lima hingga restoran besar. Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam bentuk makanan beku yang dijual di pasar swalayan dan mal-mal. Irisan bakso dapat juga dijadikan pelengkap jenis makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, atau cap cai (Wikipedia).

Bakso adalah makanan yang terbuat dari daging giling yang dicampur dengan tepung tapioka yang sudah dibulatkan berbentuk bola kecil yang dalam penyajiannya biasanya dilengkapi dengan kuah kaldu berwarna bening, serta dicampur dengan mi bihun, taoge, tahu, dan terkadang dengan telur, serta ditaburi dengan bumbu bawang goreng dan seledri. Bakso yang secara umum dapat ditemukan diseluruh wilayah Indonesia biasanya terbuat dari daging sapi, tetapi tidak tertutup kemungkinan juga bila kadang-kadang bakso terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang (www.beritaterhangat.net).

Bakso adalah jenis makanan yang sangat populer, ditemui mulai dari restoran hingga pedagang keliling. Pernah popularitas bakso merosot lantaran isu penggunaan boraks dan formalin untuk mengawetkan bakso. Bakso dapat dibuat dari berbagai jenis daging, seperti daging sapi, kerbau atau kelinci. Yang penting tahu rahasia formulasinya agar bakso enak, kenyal, empuk, bergizi, dan aman dikonsumsi (fazriyati.wordpress.com)

4.      Somai
Siomai atau siomay adalah salah satu jenis dim sum. Dalam bahasa Mandarin, makanan ini disebut shaomai, sementara dalam bahasa Kanton disebut siu maai. Dalam dialek Beijing, makanan ini juga ditulis sebagai 燒麥, dan juga dibaca shaomai. Kulit siomai adalah serupa dengan kulit pangsit. Makanan ini konon berasal dari Mongolia Dalam (wikipedia).
Siomay merupakan makanan yang dipadukan dengan sambal kacang, dimana siomay tersebut terbuat dari berbagai macam jenis bahan makanan seperti, tahu, pare, telor, kol, lumpia, pamgsit, dan siomaynya sendiri yang terbuat dari bahan terigu yang di beri daging ikan laut yang di cincang halus. Adapun makanan ini merupakan jenis makanan merakyat karena dapat ditemukan dimana pun kita berada, asal kata siomay masih belum diketahui, siomay terdapat di Bandung yang kemudian biasa orang-orang menyebutnya dengan siomay, siomay Jakarta, dan lainnya. Kita tahu tentang usaha yang ada di sekitar kampus, seperti usaha siomay ini salah satunya, usaha yang bermedia satu unit gerobak ini memiliki karakter yang unik untuk diteliti (eramutzz.blogspot.com/).














BAB III
METEDOLOGI PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan peternakan Fakultas Peternakan Universitas Halouleo Kendari pada hari Jumat 19 April 2013 pukul 10.00 sampai selesai.
B.     Alat dan Bahan
Alat dan kegunaannya yang di gunakan dalam praktikum Uji Formalin dan Borak, adalah :
No.
Alat
Kegunaan
1
Cawan Petri
Untuk meletakkan objek pengamatan
2
Silet atau Pisau
Untuk mengiris sampel pengamatan
3
Pipet tetes

4
Korek Api
Memanaskan sampel

Bahan dan kegunaannya yang di gunakan dalam praktikum Uji Formalin dan Borak, adalah
No.
Bahan
Kegunaan
1
Bakso kemaraya
Sebagai sampel pengamatan
2
Siomay Kampus
Sebagai sampel pengamatan
3
KMNO4
Pereaksi Formalin
4
Etanol
Pereaksi Boraks

C.    Prosedur Praktikum
1.      Sampel makanan yaitu bakso dan somai di iris kecil dan simpan di cawan petri yang berbeda.
2.      Berikan label pada sampel
3.      Memberikan beberapa tetes Etanol pada sampel bakso yang pertama.
4.      Mengamati perubahan yang terjadi pada sampel.
5.      Mencatat hasil pengamatan.
6.      Memberikan beberapa tetes KMNO4 pada sampel bakso yang ke dua.
7.      Mengamati perubahan yang terjadi.
8.      Mencatat hasil pengamatan.
9.      Memberikan beberapa tetes Etanol pada sampel siomay yang pertama.
10.  Mengamati perubahan yang terjadi pada sampel.
11.  Mencatat hasil pengamatan.
12.  Memberikan beberapa tetes KMNO4 pada sampel siomay yang ke dua.
13.  Mengamati perubahan yang terjadi pada sampel.
14.  Mencatat hasil pengamatan.












BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Uji Boraks dan Formalin Pada Bakso
1.      Hasil

No.
Sampel
Perlakuan
Reaksi
Hasil
1.       
Bakso Kemaraya
Ditambahkan Etanol
Di bakar dan menimbulkan nyala api
+
2.   
Bakso Kemaraya
Ditambahkan KMNO4
Terjadi perubahan warna dari ungu menjadi bening
+


2.      Pembahasan
            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, sampel bakso menunjukkan hasil yang positive mengandung boraks dan formalin. Hal ini disebabkan karena terjadinya reaksi saat sampel ditetesi Etanol dan KMNO4. Terjadinya perubahan warna yang terjadi pada sampel yang membuktikan bahwa sampel tersebut mengandung bahan pengawet walaupun dengan kadar yang rendah.
Penggunaan boraks dalam dosis yang rendah tidak akan menyebabkan kerusakan namun akan terakumulasi di otak, hati, lemak dan ginjal. Jika terakumulasi terus akan menyebabkan mal fungsi dari organ-organ tersebut sehingga membahayakan tubuh. Penggunaan boraks dalam dosis yang banyak mengakibatkan penurunan nafsu makan, gangguan pencernaan, demam, anuria. Dan dalam jangka panjang akan menyebabkan radang kulit merangsang SPP, apatis, depresi, slanosis, pingsan, kebodohan dan karsinogen. Bahkan bisa menimbulkan kematian. Oleh sebab itu berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88 dilarang menggunakan boraks sebagai bahan campuran dan pengawet makanan.
Boraks merupakan bahan beracun dan bahan berbahaya bagi manusia, karena bisa menimbulkan efek racun, tetapi mekanisme toksisitasnya berbeda dengan formalin. Yang membahayakan, boraks bisa diserap oleh tubuh dan disimpan secara kumulatif dalam hati, otak, usus atau testis sehingga dosisnya dalam tubuh menjadi tinggi. Bila dikonsumsi menahun bisa menyebabkan kanker. Boraks juga sering disalahgunakan dalam pangan. Biasanya ditambahkan pada kerupuk, bakso, lontong dan lain-lain. Masyarakat awam mengenal boraks dengan nama Bleng atau Cetitet
Boraks (Na2B4O7) dengan nama kimia natrium tetra bonat, natrium biborat, natrium piroborat merupakan senyawa kimia yang berbentuk kristal dan berwarna putih dan jika dilarutkan dalam air menjadi natrium hidroksida serta asam boraks. Natrium hidroksida dan asam boraks masing-masing bersifat antiseptik, sehingga banyak digunakan oleh industri farmasi sebagai ramuan obat misalnya : salep, bedak, larutan kompres, dan obat pencuci mata. Penggunaan boraks di industri farmasi ini sudah sangat dikenal. Hal ini dikarenakan banyaknya boraks yang dijual di pasaran dan harganya yang sangat murah. Selain itu boraks bagi industri farmasi memberikan untung yang besar. Boraks pada dasarnya merupakan bahan untuk pembuat solder, bahan pembersih, pengawet kayu, pengontrol kecoa, dan bahan pembuatan kaca. Dengan sifat fisik dan sifat kimia yang dimiliki, boraks digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan benda-benda tersebut. Boraks sedikit larut dalam air, namun bisa bermanfaat jika sudah dilarutkan dalam air.
Beberapa survei menunjukkan, alasan para produsen menggunakan bahan pengawet seperti formalin dan boraks karena daya awet dan mutu bakso yang dihasilkan menjadi lebih bagus, serta murah harganya tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan. Tuntutan itu melahirkan konsekuensi yang bisa saja membahayakan, karena bahan kimia semakin lazim digunakan untuk mengawetkan makanan termasuk juga formalin yang dikenal menjadi bahan pengawet mayat. Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen yang cenderung untuk membeli makanan yang harganya lebih murah, tanpa memperhatikan kualitas makanan. Dengan demikian, penggunaan boraks dan formalin pada makanan seperti mie, bakso, kerupuk dan makanan lainnya dianggap suatu hal yang biasa. Sulitnya membedakan makanan seperti bakso biasa dan bakso yang dibuat dengan penambahan formalin dan boraks juga menjadi salah satu faktor pendorong perilaku konsumen itu sendiri.
Bakso menjadi salah satu jajanan yang menjadi favorit bagi banyak orang Indonesia. Sehingga tidak susah untuk mencari jajanan ini. Mulai dari warung di sekolahan hingga perkantoran, bakso menjadi salah satu menu favorit. Namun sayangnya, masih banyak produsen bakso yang tidak memperhatikan sisi kesehatan konsumen. Sebagai konsumen kita perlu waspada dengan memperhatikan ciri-ciri bakso yang memakai zat berbahaya berikut ini:
1.      Bakso mengandung Boraks memiliki struktur yang kenyal dan lebih keras
2.      Bakso mengandung boraks pasti memiliki daya tahan lebih lama
3.      Mampu bertahan sampai lima hari.
4.      Teksturnya sangat kental, warna tidak kecokelatan seperti penggunaan daging namun lebih cenderung keputihan.
5.      Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul.
6.      Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul.
7.      Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola.
Pedagang makanan banyak yang memanfaatkan boraks pada makanan yang dijualnya agar makanan tahan lama dan tidak mudah busuk apabila pada hari pertama penjualan tidak habis terjual, maka dapat dijual lagi di hari berikutnya. Mereka ingin memperoleh keuntungan dari makanan yang dijual tanpa mendapatkan kerugian yang besar. Selain faktor pedagangnya, konsumen yang membeli makanan pun lebih cenderung memilih makanan yang murah dan banyak tanpa memperhatikan kandungan gizi yang terdapat pada makanan tersebut. Sehingga walaupun makanan tersebut mengandung boraks, jika harganya lebih murah dan rasanya lebih enak tentu saja masyarakat lebih memilihnya dibandingkan dengan makanan-makanan yang sehat dan bebas dari boraks namun harganya mahal dan tidak awet.

Selain itu tingkat pengetahuan masyarakat mengenai bahan pengawet dan zat aditif pada makanan sangat rendah sehingga mereka tidak memperhatikan makanan yang dikonsumsinya dan bahaya apa yang bisa ditimbulkannya. Terkadang nilai gizi yang terkandung pada makanan yang dikonsumsi merekapun tidak dipedulikan. Mereka kurang menyadari pentingnya menjaga kesehatan yang salah satu caranya adalah dengan memperhatikan dan menghindari konsumsi terhadap makanan-makanan yang mengandung zat pengawet berbahaya dan mengandung zat-zat aditif yang beracun dan berlebih.

B.        Uji Boraks dan Formalin Pada Somai
1.         Hasil
No.
Sampel
Perlakuan
Reaksi
Hasil
1.       
Siomay Kampus
Ditambahkan Etanol
Di bakar dan menimbulkan nyala api
+
2.       
Siomay Kampus
Ditambahkan KMNO4
Terjadi perubahan warna dari ungu menjadi bening
+


2.         Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, sampel siomay menunjukkan hasil yang positive memgandung boraks dan formalin. Dikarenakan setelah ditetesi Etanol maupun KMNO4 terjadi reaksi yang menandakan sampel tersebut mengandung zat pengawet yang apabila dikonsumsi seraca terus - menerus akan mengakibatkan kerusakan hati dan organ – organ lainnya bahkan bisa mengakibatkan kematian.

Pembuktian kandungan boraks pada siomay dilakukan dengan uji nyala. Uji nyala adalah salah satu metode pengujian untuk mengetahui apakah dalam makanan terdapat boraks atau tidak. Disebut uji nyala karena sampel yang digunakan dibakar uapnya, kemudian warna nyala dibandingkan dengan warna nyala boraks asli. Tentu sebelumnya telah diketahui bahwa serbuk boraks murni dibakar menghasilkan nyala api berwarna hijau. Jika sampel yang dibakan menghsilkan warna nyala hijau maka sampel dinyatakan positif mengandung boraks.

Hasil survei dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan, sejumlah produk pangan menggunakan formalin sebagai pengawet. Formalin tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan pada pangan dan dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah tenggorokan terasa panas dan kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ tubuh lainnya, serta gejala lainnya
            Departemen Kesehatan RI tahun 2006 telah memaparkan tertang bahaya utama formalin yang sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit, dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi, dan bahaya kanker pada manusia.
            Penggunaan formalin untuk bahan pangan dilarang karena tidak sesuai dengan Undang – Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 dan PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan Gizi pangan. Sedangkan tatacara perniagaannya diatur dengan keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MMP/Kep/7/2000.
            Formalin dalam bahan pangan tidak dapat dihilangkan dengan mencuci dan merendam produk makanan tersebut dengan air panas bersuhu 80­0 C selama lima hingga sepuluh menit. Meski terjadi penurunan kadar, namun masih terdapat kandungan formalin.
Kandungan boraks atau formalin pada makanan memang sulit untuk dideteksi. Secara akurat, ia hanya bisa terdeteksi di laboratorium melalui uji boraks dan uji formalin dengan menggunakan bahan kimia lainnya. Namun makanan yang proses pembuatannya dengan zat-zat kimia berbahaya, kini sudah beredar luas di pasaran dan sangat mudah didapat.
            Mengonsumsi bahan pangan berformalin sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Jika kandung formali dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.
            Pada prinsipnya, senyawa formalin yang biasanya digunakan sebagai bahan pengawet mayat dapat bereaksi dengan asam amino yang menyebabkan protein terdenaturasi sehingga formalin akan bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pernafasan dan saluran pencernaan. Dari segi fisiknya, uap formalin yang terkontak secara langsung akan mengakibatkan iritasi mata, hidung, esophagus dan saluran pernafasan. Dalam konsentrasi yang tinggi akan mengakibatkan krjang – kejang di sekitar pangkal tenggorokkan. Yang menjadi masalah adalah kandungan pengawet formalin akan bereaksi dengan cepat dalam saluran dan organ pencernaan apabila kondisi perut dalam keadaan kosong. Selain itu, pemakaian formalin dalam makanan dapat menyebabkan keracunan pada organ fungsional tubuh manusia. Hal tersebut ditandai dengan gejala sukar menela, nafsu makan berkurang, mual sebagai reaksi penolakan dari lambung, sakit perut yang akut sebagai reaksi penolakan dari hati, lambung dan usus besar, diare dan pada akhirnya disertai dengan muntah – muntah. Pada tingkat yang parah akan mengakibatkan depresi pada susunan syaraf atau gangguan peredaran darah.
            Berdasarkan sifatnya yang karsinogenik, jika konsentrasi formalin tinggi dalam tubuh, maka akan bereaksi secara kimia dengan hampir seluruh sel penyusun tubuh sehingga menyebabkan kerusakna sel dan bahkan mutasi sel yang memicu berkembangnya kanker, setelah terakumulasi dalam waktu yang relative lama dalam tubuh. Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen (menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan).














BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Suatu bahan makanan dikatakan mengandung formalin, jika dalam melakukan percobaan , bahan makanan tersebut akan berubah warna dari merah keunguan menjadi bening, jika ditetesi pereaksi 1 dan/atau pereaksi 2 formalin. Dan sebaliknya, jika suatu bahan makanan tidak mengandung formalin, jika tidak terjadi perubahan warna apabila ditetesi dengan pereaksin 1 dan/atau pereaksi 2. Begitu pula dengan boraks, suatu bahan makanan dikatakan mengandung boraks apabila terjadi perubahan warna saat diuji dengan ditetesi pereaksi boraks, dan tidak mengandung boraks apabila tidak terjadi perubahan warna.

B.     Saran
Dalam melakukan praktikum yang berkaitan dengan alat maupun bahan-bahan kimia, diharapkan agar kita tidak menyentuh ataupun menghirup secara langsung bahan-bahan tersebut, karena keteledoran ini akan berakibat fatal bagi kesehatan kita. Dalam menuang maupun meneteskan pereaksi formalin, disarankan agar hidung kita berada jauh dari tabung reaksi, sehingga bahan tersebut tidak terhirup secara langsung dan membahayakan kita.


 

DAFTAR PUSTAKA

Arisworo. Djoko. 2006. Ipa terpadu. Grafindo media pratama.
Didinkaem, 2007. Bahan beracun lain dalam makanan. Pikiran Rakyat, 26 Januari
Moffat, A. C. (1986). Clarke’s Isolation and Identification of Drugs. Edisi           2. London. The Pharmaceutical Press. Hal. 420-421, 457-458, 849, 932-933.Ngadiwaluyo dan Suharjito, 2003
Saparinto., Cahyo. 2006. Bahan tambahan pangan. Kanisius. Yogyakarta
Yuliarti, N. 2007.  Awas! Bahaya di Balik Lezatnya Makanan. Yogyakarta.
http://www.pom.go.id/index.php/subsite/balai/palangkaraya/18/tips/17 Diakses pada hari Minggu 21 April 2013 pukul 20.00 WITA.
http://id.wikipedia.org/wiki/Bakso Diakses pada hari Minggu 21 April 2013 pukul 20.00 WITA.
http://id.wikipedia.org/wiki/Siomai Diakses pada hari Minggu 21 April 2013 pukul 20.00 WITA.
http://www.beritaterhangat.net/2012/12/resep-dan-cara-membuat-bakso-sapi.html Diakses pada hari Selasa 23 April 2013 pukul 10.00 WITA.
http://eramutzz.blogspot.com/ Diakses pada hari Rabu 24 April 2013 pukul 20.00 WITA.
http://www.kesmas-unsoed.info/2010/12/laporan-praktikum-borak.html Diakses pada hari Rabu 24 April 2013 pukul 20.00 WITA.



 







1 komentar:

Moh Taufik on 21 September 2013 03.40 mengatakan...

Trims infonya..
Kunjungi juga my blog : http://girpapas.blogspot.com/

Poskan Komentar

 

My World Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei